Sabtu, 06 Agustus 2016

Puisi untuk Seorang Isteri

Pada saat seseorang masih muda dan beranjak menuju sebuah tingkat kedewasaan yang lebih tinggi serta masih berstatus lajang, salah satu hal yang menjadi fokus pemikirannya adalah masalah mencari seorang teman hidup. Di dalam proses pencarian calon suami/isteri, seseorang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan orang yang dicintainya tersebut. Proses untuk saling mengenal dan memahami antar pribadi yang biasanya kita sebut sebagai masa pacaran adalah masa dimana semua terlihat sungguh indah. Semua hal yang ada pada orang yang dicintai begitu terasa sempurna dan tidak ada sedikit pun cela.

Setelah melewati masa pacaran dan akhirnya dua pribadi memutuskan untuk sepakat mengarungi kehidupan bersama maka akan dimulailah sebuah babak baru yang pastinya ada banyak hal baru yang akan dihadapi bersama. Menjalani hidup secara bersama setiap hari (bukan lagi seperti pada saat pacaran yang mungkin tiap minggu hanya bertemu beberapa kali dan itupun bukan dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk tiap pertemuannya), menjalani rutinitas setiap hari, beban hidup yang semakin meningkat dan masih banyak hal lainnya mungkin akan memicu terjadinya gesekan dalam sebuah rumah tangga yang harus dicari solusinya. Tidaklah mudah ketika seorang wanita lajang berubah predikatnya menjadi seorang istri, dimana banyak hal yang harus dikorbankan dari dirinya dan latar belakangnya termasuk sebagian dari ego diri untuk mengikuti dan mengabdi kepada seorang laki-laki yang sudah menjadi pilihan hati dan hidupnya. 

Sahabat, terutama untuk kaum laki-laki yang sudah menyandang gelar sebagai seorang suami, marilah kita belajar untuk selalu menghargai wanita yang sudah menemani dan mendampingi hidup kita mengarungi lautan kehidupan ini. Hidup kita tidak akan lengkap tanpa seorang wanita sebagai pendamping kita. Berbahagialah kita seorang laki-laki, karena Tuhan telah menganugerahkan seorang penolong di dalam kehidupan ini. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang isteri/wanita yang tidak dapat dikerjakan sendiri oleh seorang laki-laki.

Puisi ini tertulis sebagai ungkapan terima kasih saya secara pribadi kepada istri saya yang telah menemani, merawat, menyiapkan segala kebutuhanku sehari-hari dari bangun tidur sampai saya tertidur kembali, merawat anak-anak kami dan banyak hal lagi yang sulit untuk diungkapkan. Ini semua hanyalah sebuah ungkapan hati yang saya tuangkan dalam sebuah tulisan untuk menghargai seorang wanita yang merelakan dirinya untuk menjadi isteriku, terlepas apakah para sahabat yang membaca tulisan ini setuju atau tidak, terima kasih.


Untuk Istriku

Tanpa kata kaki tangan pun bekerja
Tiada henti tuk siapkan awal hari
Dalam dingin dan gelapnya pagi
Penuh kasih dan tulusnya hati

Tiada peduli akan ego diri
Mengabdikan cinta tuk buah hati
Merangkai kasih tiada bertepi
Tuk wujudkan asa yang menanti
Lelah...letih...tetap kau jalani
Senang...susah...kau nikmati
Tiada sesal tuk semuanya ini
Relakan diri sepenuh hati

Temani hidup sepanjang waktu
Tak cukup kata tuk ungkapkan semua
Rasa terima kasih diri ini
Dan hidupku hanyalah untukmu

...ISTRIKU...

Tanpa kata kaki tangan pun bekerja Tiada henti tuk siapkan awal hari Dalam dingin dan gelapnya pagi Penuh kasih dan tulusnya hati  Tiada peduli akan ego diri Mengabdikan cinta tuk buah hati Merangkai kasih tiada bertepi Tuk wujudkan asa yang menanti Lelah...letih...tetap kau jalani Senang...susah...kau nikmati Tiada sesal tuk semuanya ini Relakan diri sepenuh hati  Temani hidup sepanjang waktu Tak cukup kata tuk ungkapkan semua Rasa terima kasih diri ini Dan hidupku hanyalah untukmu  ...ISTRIKU...




Tidak ada komentar:

Posting Komentar