Selasa, 29 November 2016

Kenikmatan Hidup yang Kita Dapatkan Bukanlah 100% Hasil Usaha Kita

Ingatlah, dalam setiap kenikmatan yang kita rasakan selalu ada pengorbanan orang lain di dalam
"Ingatlah, dalam setiap kenikmatan yang kita rasakan, selalu ada pengorbanan orang lain di dalamnya"

Seperti halnya sebuah rantai makanan yang terjadi di dalam alam ini, dimana untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya maka setiap individu membutuhkan pengorbanan dari individu yang lain. Dimana pada siklus ini terjadi proses memakan dan dimakan yang selalu akan berulang. Demikian juga didalam proses kehidupan manusia, yang saya maksud bukanlah untuk saling memakan, tetapi akan selalu ada pengorbanan dari orang lain untuk setiap kenikmatan dan kelangsungan hidup kita. Pengorbanan orang lain ini selalu terjadi walaupun kita tidak selalu menyadarinya. Dan proses ini juga seperti rantai atau siklus yang tidak akan pernah terputus dari manusia yang satu ke manusia yang lainnya, dari generasi satu ke generasi selanjutnya.

Sebagai ilustrasi, saya akan mengambil contoh sepenggal cerita fiktif dari kehidupan sebuah keluarga.

Ada sebuah desa di pinggiran kota yang cukup ramai tetapi tidak terlalu besar. Desa tersebut masih terlihat asri dan belum terlalu banyak polusi kendaraan yang mencemarinya. Sepanjang jalan banyak ditumbuhi pohon di kiri kanannya menambah asri dan teduh pada saat melewatinya. Hamparan sawah yang luas juga terlihat menghijau meperlihatkan kesuburan tanah yang ada. Sumber penghasilan utama dari warga desa tersebut adalah dari hasil bercocok tanam. Sebagian besar warga desa tersebut juga memelihara ternak sebagai tambahan penghasilan dan tabungan mereka. Ternak yang dipelihara oleh hampir seluruh warga adalah ayam, kambing, dan sapi.

Pada suatu pagi, terlihat seorang lelaki yang sudah cukup tua berjalan sambil menuntun dua ekor sapi. Sapi tersebut bukanlah milik lelaki tersebut, tetapi milik tetangga yang dirawatnya dengan sistem bagi hasil. Lelaki itu adalah salah seorang warga dari desa tersebut, kita sebut saja namanya Pak Karto. Sesampainya di sawah yang dia tuju, terlihat sebuah alat untuk membajak sawah terbuat dari kayu yang terlihat besar dan berat. Dengan hati-hati dipasangkannya alat tersebut pada kedua sapi yang dibawanya, dan mulailah Pak Karto membajak sawah miliknya.

Pak Karto mempunyai 3 orang anak yang semuanya adalah laki-laki. Anaknya yang pertama sudah menikah dan merantau di kota besar yang cukup jauh dari desa tersebut. Dia bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan posisi managerial. Boleh dikatakan bahwa anak yang pertama ini cukup sukses dalam karirnya dan secara finansial  cukup berada.  Dengan kondisi yang berkecukupan tersebut, sang kakak inipun membantu orang tuanya untuk membiayai sekolah kedua adiknya. Salah satu hal yang diharapkan sang kakak adalah adik-adiknya dapat memperoleh masa depan yang baik atau bahkan lebih baik daripada dirinya. Saat ini adiknya yang pertama  sedang kuliah dan yang kedua adalah seorang pelajar SMU kelas 3. Secara umur anak yang pertama memang terpaut cukup jauh dengan kedua adiknya.

Dahulu pada saat anak yang pertama masih sekolah, kehidupan Pak Karto termasuk cukup sulit. Untuk membiayai sekolah, Pak Karto terkadang harus berhutang dan menambah penghasilan dengan menjadi kuli bangunan di sela waktu bertaninya. Hal tersebut dilakukan oleh Pak Karto karena dia ingin anak-anaknya mempunyai masa depan yang lebih baik daripada dirinya sekarang. Satu hal lain yang juga mendukung Pak Karto untuk tetap bersemangat karena ia melihat anaknya tersebut juga berusaha keras dalam belajar sehingga selalu saja mendapatkan rangking yang baik setiap kali menerima raport. Berkat semangat dan kegigihan yang dimiliki oleh keduanya, akhirnya Pak Karto dapat menjadikan anak pertamanya menjadi seorang yang mapan seperti yang diharapkan.

Mungkin rekan pembaca bertanya, apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan dari cerita di atas? Atau juga apa hubungan antara cerita dengan kata mutiara dalam gambar di atas? Saya hanya ingin menggambarkan bahwa kenikmatan hidup yang kita rasakan dan kita dapatkan sebenarnya bukanlah 100℅ hasil jerih payah kita sendiri. Pasti ada orang-orang lain yang membantu dan memberikan pengorbanannya agar kita mendapatkan kenikmatan seperti yang diharapkan. Terlepas bahwa pengorbanan orang lain tersebut besar atau pun kecil. Baik itu kenikmatan dalam sisi finansial, kebahagiaan, kedamaian dan lainnya. Lihatlah anak pertama Pak Karto dalam cerita di atas, tanpa pengorbanan yang dilakukan oleh ayahnya dalam mencukupi kebutuhan sekolahnya mungkin ceritanya akan berbeda. Memang hal utama yang membuat dia sukses adalah  usaha dan kerja keras yang dilakukannya. Satu hal lagi dari cerita di atas adalah: apabila kita menyadari bahwa ada pengorbanan orang lain dalam keberhasilan kita maka kita pun akan melakukan hal yang sama kepada orang lain, seperti halnya sang kakak membiayai adik-adiknya.

Seorang pemimpin tidak akan ada apabila tidak ada pengikut, tidak akan ada atasan jika tidak ada bawahan. Dan penentu keberhasilan serta kebesaran seorang pemimpin/atasan salah satunya adalah dukungan dan pengorbanan pengikut/bawahannya. Sahabat, kita harus selalu ingat bahwa nikmat yang kita rasakan bukankah 100℅ hasil jerih payah dan usaha kita semata. Dibalik semua kenikmatan tersebut banyak orang-orang yang sudah rela berkorban agar kita mendapatkan  kenikmatan seperti yang kita harapkan. Dengan mengingat bahwa kita tidak akan dapat berhasil dengan kekuatan sendiri maka eratkanlah rasa persahabatan dan persaudaraan agar senantiasa ada kerelaan untuk saling mendukung keberhasilan antar pribadi yang satu dengan yang lainnya. Semua ini hanyalah sekedar pemikiran saya sebagai proses pembelajaran diri sendiri, dan saya haturkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah merelakan waktunya untuk membaca tulisan ini.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar