Senin, 12 Desember 2016

Citra Diri: Seperti Apakah Saya?

"Pikirkanlah selalu hal-hal positif karena dari pikiran terbentuklah citra diri kita"

Pikirkanlah selalu hal-hal positif karena dari pikiran terbentuklah citra diri kita

Pernahkah Anda mendengar tentang citra diri? Mungkin ada yang pernah dan mungkin juga ada yang belum, citra diri adalah sebuah gambaran yang ada di dalam pikiran kita tentang seperti apa diri kita. Jadi boleh dikatakan bahwa jawaban dari pertanyaan yang ada dalam judul di atas adalah: saya adalah seperti gambaran tentang diri saya sendiri yang ada di dalam pikiran saya. Dari gambaran ini akan muncul suatu penilaian terhadap diri kita, baik itu penilaian positif maupun yang negatif. Penilaian inilah yang akan mempengaruhi sebuah rasa penerimaan terhadap diri sendiri. Ada kalanya kita melihat atau merasakan bahwa ada satu hal atau lebih dari diri kita yang kurang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hal ini secara tidak sadar akan menimbulkan sebuah rasa penolakan terhadap diri sendiri. Biasanya penolakan diri ini ditandai dengan adanya sebuah pemikiran untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain atau berandai-andai. Gambaran tentang diri kita tersebut sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri, pola pikir, perilaku, sikap, perkataan dan hal yang lainnya. Pada umumnya citra diri kita dapat terlihat dan dirasakan oleh orang lain dari setiap apa yang kita perbuat. 

Kapan dan bagaimanakah citra diri seseorang mulai terbentuk? Citra diri ini terbentuk dari dua buah faktor lingkungan yaitu lingkungan eksternal dan internal dari seseorang. Lingkungan eksternal adalah segala sesuatu yang berada diluar diri seorang individu. Lingkungan eksternal ini terdiri dari beberapa unsur, diantaranya adalah: orang-orang yang berhubungan dengan individu tersebut baik langsung maupun tidak langsung, kondisi sosial ekonomi yang ada, budaya masyarakat dimana dia tinggal dan lain sebagainya. Sedangkan lingkungan internal adalah individu itu sendiri yang meliputi unsur fisik dan psikologis.

Kembali kepada pertanyaan di atas, citra diri seseorang terbentuk mulai dari awal kehidupannya. Bahkan semenjak masih di dalam kandungan ibunya, seseorang sudah mulai dibentuk citra dirinya. Mengapa demikian? Karena pada saat manusia masih  berupa janin didalam rahim seorang ibu, dia sudah merupakan seorang individu yang mempunyai kehidupan walaupun sangat terbatas. Seorang anak yang masih dalam kandungan akan sangat terpengaruh oleh apapun yang dirasakan oleh ibunya karena saat itu dia adalah bagian dari tubuh ibunya. Kondisi psikologis seorang anak yang diharapkan kehadirannya dengan anak yang tidak diharapkan dari orang tuanya pastilah akan berbeda pada saat besarnya. Anak yang diharapkan biasanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya semenjak dalam kandungan, sehingga dia akan merasa diterima dan akan mempunyai citra diri yang positif. Sebaliknya anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian akan merasa kehadirannya tidak mempunyai arti atau bahkan merasa adanya sebuah penolakan dari orang terdekatnya.

Lingkungan Internal
Dalam lingkup lingkungan internal ini terdiri dari 2 unsur, yaitu:
1. Citra Diri secara Fisik 
Adalah sebuah gambaran diri kita dari sisi keadaan fisik atau tubuh yang ada pada saat ini.  Pada dasarnya apabila seseorang merasa dirinya mempunyai postur tubuh yang baik, kondisi kesehatan dan kelengkapan tubuh yang normal (tidak cacat) maka hal ini akan membentuk sebuah citra diri yang positif. Tetapi apabila terjadi hal yang sebaliknya, biasanya akan menimbulkan sebuah kecenderungan untuk membentuk sebuah citra diri yang negatif, sehingga akan sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri seseorang. Setelah dari kelengkapan tubuh, kemudian seseorang akan menilai dirinya tentang seberapa menariknya bentuk fisik yang dimiliki tersebut. Sebagai contoh misalnya dari sisi wajah cantik/ganteng, bentuk tubuh yang seksi atau gagah dan yang lainnya. Apabila seseorang dapat menerima dan nyaman dengan apa yang ada pada tubuhnya maka dia akan mempunyai citra diri yang positif dalam hal fisik. Citra diri yang terbentuk dari keadaan fisik ini biasanya dapat berubah seiring dengan perubahan yang terjadi pada tubuh seseorang.
2. Citra Diri secara Psikologis
Adalah sebuah gambaran diri yang terbentuk dari kemampuan yang dimiliki seseorang dari sisi non fisik. Kemampuan non fisik ini dapat berupa kecerdasan secara intelektual, kecerdasan dalam bersosialisasi, konsep atau pola pikir, pengalaman hidup dan lain sebagainya. Sebagai contoh pengaruh citra diri dari pengalaman hidup, pada saat kita melakukan suatu pekerjaan dan hasilnya memuaskan/sukses maka kita akan merasa bahwa diri kita mempunyai kemampuan yang memadai dalam hal pekerjaan tersebut sehingga akan menambah rasa percaya diri kita. Contoh tersebut adalah sebuah hal yang akan membentuk dan menambah citra diri kita menjadi positif. Tetapi sebaliknya, sebuah kegagalan akan menurunkan citra positif kita atau dengan kata lain akan memicu citra diri yang negatif. Dan citra diri inipun dapat berubah seiring berjalannya waktu dan kedewasaan seseorang.

Lingkungan Eksternal
Dalam lingkup lingkungan eksternal ini apabila kita pilah-pilah secara detail akan terdiri dari banyak unsur. Tetapi pada bahasan dalam tulisan ini hanya akan dibatasi pada 1 hal yang saya anggap paling penting yaitu orang lain dan lingkungan sosial. Mengapa demikian? karena orang lain sangat besar pengaruhnya terhadap sebuah citra diri seseorang. Dimana seorang individu tidak mungkin hidup tanpa keberadaan dan interaksi dengan orang yang lain dalam kehidupannya. Di dalam berinteraksi dengan orang lain inilah akan terjadi pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negatif dalam terbentuknya sebuah citra diri seseorang. Apabila seorang individu dapat diterima dengan baik dan apa adanya oleh lingkungan sosialnya maka dia juga akan menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura. Masalah utama seseorang dalam sebuah komunitas adalah mengenai apakah kehadiran dirinya dapat diterima atau ditolak oleh komunitasnya tersebut. Seperti sudah disebutkan di atas, apabila dia dapat diterima maka tidak akan ada sebuah masalah, akan tetapi pada saat seeorang merasa tertolak atau tidak diterima maka hal inilah yang akan berakibat negatif terhadap citra dirinya. Seseorang tidaklah mungkin untuk dapat menyenangkan setiap orang yang ada dalam kehidupannya sehari-hari.

Dengan adanya kondisi dan unsur-unsur pembentuk citra diri seperti di atas, sebaiknya apa yang harus dilakukan agar citra diri kita positif? Seperti telah disebutkan di awal bahwa citra diri ini berada dalam pikiran kita, maka yang harus dilakukan agar citra diri tetap positif adalah selalu memikirkan hal-hal yang positif tentang diri dan kedaan kita serta bergaul dengan orang atau lingkungan yang positif tentunya. Pengaruh pergaulan sangatlah kuat terhadap karakter seorang individu, sehingga apabilah seseorang bergaul dengan lingkungan yang positif maka dia akan ikut menjadi positif dan juga sebaliknya. Salah satu indikasi bahwa seseorang mempunyai citra diri yang positif adalah dia dapat bersyukur dan menerima dirinya apa adanya. Apabila seseorang dapat menerima dirinya apa adanya maka pastilah dia juga dapat menerima keadaan orang lain apa adanya, dan inilah salah satu hal yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Memang untuk selalu berpikir positif dalam setiap keadaan tidaklah mudah, tetapi apabila kita mau dan berusaha pastilah ada hasilnya.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 




Sabtu, 03 Desember 2016

Ujian dalam Kehidupan: Sekedar Sebuah Sudut Pandang

"Seperti sebuah anak tangga,demikian juga persoalan dan ujian hidup ini. Ketika kita dapat melewatinya maka kita akan menjadi lebih tinggi."

Seperti sebuah anak tangga,demikian juga persoalan dan ujian hidup ini. Ketika kita dapat melewatinya maka kita akan menjadi lebih tinggi

Di dalam kehidupan sehari-hari, pastilah kita dihadapkan pada suatu masalah. Terlepas bahwa yang dihadapi adalah masalah besar ataupun kecil, entah itu banyak masalah maupun sedikit. Cobalah kita ingat dari saat kita membuka mata di pagi hari sampai dengan kita tidur lagi di malam hari, apakah benar selalu ada masalah? Pada saat mau bangun tidur saja kita sudah harus memilih, apakah langsung bangun ataukah tidur untuk sebentar lagi? Apakah bangun tidur langsung mandi ataukah santai dulu? Pada saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan, dan itu sebenarnya adalah sebuah masalah kecil yang harus diselesaikan. Karena kita sudah terbiasa dengan rutinitas masalah tersebut setiap hari sehingga kita tidak merasakan lagi bahwa itu adalah sebuah masalah. Mengapa bisa seperti itu? Karena setiap kali kita mendapatkan masalah dan dapat menyelesaikannya maka secara otomatis diri kita menyimpan cara penyelesaian tersebut. Kemudian secara otomatis hal itu akan bekerja tanpa kita harus berpikir lagi pada saat menghadapi masalah yang sama.

Dikarenakan sangat sering terjadi maka jadilah hal tersebut sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan akan melekat pada diri seseorang yang kemudian akan membentuk sebuah karakter. Apabila sebuah kebiasaan dilakukan oleh sebuah kelompok masyarakat, maka hal ini juga akan membentuk sebuah karakter masyarakat tersebut yang akhirnya menjadi sebuah budaya dari masyarakat bersangkutan. Waduh...malah ngelantur kemana-mana...he..he.

Kembali pada tema awal bahwa sebuah ujian hidup adalah seperti sebuah anak tangga. Dimana saat kita dapat melewatinya maka pastilah kita akan berada pada posisi yang lebih tinggi. Atau boleh juga diibaratkan ujian adalah sebuah pintu yang harus kita lewati untuk masuk menuju sebuah jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Sekedar mengingatkan sebuah contoh yang sangat umum terjadi dan semua orang juga tahu. Di dalam jenjang sekolah, setiap kali kita akan naik kelas atau lulus dari satu jenjang ke jenjang sekolah yang lebih tinggi maka kita dihadapkan pada suatu permasalahan dan soal-soal yang harus kita selesaikan yang biasa kita sebut ujian. Pada saat kita mendapatkan suatu nilai seperti yang disyaratkan maka kita dinyatakan lulus dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Demikianlah hidup dan kehidupan juga mempunyai sebuah kriteria untuk seluruh pelakunya. Dimana untuk mendapatkan dan sampai ke dalam jenjang tertentu haruslah melewati ujian hidup. Tetapi sebuah ujian hidup tidaklah sama seperti dalam dalam ujian sekolah, dimana kita tahu kapan waktunya akan datang dan juga seputar materi apa yang akan diujikan. Kita tidak akan pernah tahu kapan dan apa materi yang akan diujikan di dalam hidup kita. Terkadang ujian ini dapat kita lihat sebagai sebuah kesempatan untuk menjadikan kehidupan kita lebih baik. Tidak jarang juga ujian ini datang secara tiba-tiba dan tidak dapat kita lihat sama sekali sebelumnya.

Seperti telah dikatakan di atas bahwa sebuah ujian adalah  sebuah permasalahan yang bertujuan untuk menguji kita, apakah kita sudah memenuhi suatu kriteria untuk kehidupan yang lebih tinggi. Apakah sebuah ujian hidup selalu dapat kita lalui? Menurut pendapat saya, seharusnya kita mampu untuk menyelesaikan atau melewati setiap ujian yang diberikan kepada kita. Hal tersebut di atas berlaku apabila kita selalu belajar tentang apa yang sudah diajarkan oleh hidup dan kehidupan sebelum kita menghadapi sebuah ujian. Cobalah lihat hal ini: seorang guru memberikan soal ulangan kepada muridnya dengan tujuan untuk melihat apakah pelajaran yang sudah diajarkan  telah dapat dimengerti dan dipahami atau belum. Dan seandainya sudah, maka guru akan melanjutkan ke pelajaran selanjutnya, apabila belum maka dia akan mengulangnya. Saya yakin bahwa Tuhan juga tidak akan menguji umat-Nya dengan sesuatu yang belum diajarkan oleh-Nya melalui hidup dan kehidupan.

Sahabat, ada orang yang merasa cukup dengan lulus sekolah SMU, ada juga orang yang puas dengan lulus S1. Tetapi ada juga orang yang ingin dan berusaha untuk mendapatkan gelar Doktor atau Profesor. Dan ujian yang dihadapi masing-masing jenjang tidaklah sama. Begitu juga halnya hidup dan kehidupan yang ingin kita raih selalu memberikan ujian yang berbeda pula. Juga perlu kita ingat bahwa sebenarnya kita tidaklah tahu saat ini sedang berada di jenjang yang mana, sehingga jangan pernah untuk merasa iri dan membandingkan kehidupan serta ujian yang ada dengan orang lain, karena hal tersebut tidak akan berguna dalam hidup kita. Semua jenjang kehidupan mempunyai ujian, konsekuensi dan harga yang harus dibayar untuk dapat meraihnya. Dan semuanya kembali kepada pribadi kita masing-masing untuk memilih dan menentukan seberapa tinggi anak tangga yang akan kita lewati.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati